26 Maret 2009

LEBIH BAIK MELANGGAR DARI PADA WAJIB PAJAK!

Pagi ini saya cukup dikagetkan dengan tulisan di koran KOMPAS khususnya pada bagian surat untuk Redaksi yang isinya adalah seperti ini:

"Biaya Balik Nama Mobil, Tidak sesuai Harga Pasar!"
Pada akhir bulan Februari 2009 saya mengajukan permohonan balik nama untuk kendaraan mobil ke Kantor Satuan Manunggal Satu Atap (Samsat) Jakarta Selatan dengan merek/tipe mobil Toyota Corola XLI 1.8 jenis sedan dengan tahun pembuatan 2001.

Awalnya saya ingin menjadi warga Kota Jakarta yang taat pajak. Namun, betapa terkejutnya saya karena berdasarkan penghitungan petugas di kantor Samsat, mobil dengan Tahun perakitan 2001 itu dihitung dengan dasar pengenaan bea balik nama (BBN) sebesar Rp156 juta sehingga BBN yang harus dibayarkan oleh wajib pajak/pemilik mobil sebesar Rp1.560.000.

Padahal, mobil tersebut hanya saya beli dengan harga sekitar Rp80 juta dan pasaran mobil untuk kelas sedan ini dengan tahun pembuatan 2001 ini harganya tidak lebih dari Rp100 juta. Yang menjadi pertanyaan, apakah logis kebijakan besarnya pengenaan bea balik nama untuk mobil seperti itu?

Menurut logika, apa mungkin harga dasar kebijakan pemerintah sampai dua kali lipat dari harga pasar?
Sebagai Wajib Pajak, saya yakin hal tersebut konotasinya jelek! dan wajib pajak akan lebih baik melanggar dari pada harus memenuhi kewajibannya membayar pajak! Wajib pajak yang ingin taat pajak justru terjebak dalam situasi yang membingungkan.

D DJUNAEDI
Jalan Cilandak II RT 004 RW 003, Jakarta

Mohon perhatian yang berwenang...!!

21 Februari 2009

MENGAPA MENCURI NAK...??

Karena mencuri, seorang anak ingusan sebut saja acong, terancam dijerat dengan pasal 362 KUHP tentang pencurian. Ancaman sanksi ini membuat acong terdengar seperti menjalani proses hukum layaknya seorang dewasa. Katakanlah, acong bersalah! Namun bukan kah acong (bocah berusia 11 tahun itu) juga dapat mengalami keguncangan psikologis akibat rangkaian proses hukum yang harus dilewatinya? Lengkap sudah status acong! Dimata hukum, siswa sekolah dasar itu tak ubahnya "penjahat" (hak - haknya di cabut!).

Dengan ditempatkan dirumah tahanan anak, acong diasingkan dari lingkungan yang dianggap KRIMINOGENIK! (lingkungan yang membuatnya menjadi maling!) Yaitu rumah, sekolah, dan komunitas! Ini sama artinya dengan pernyataan bahwa orang tua dan keluarga acong tidak dipercaya mampu memperbaiki prilaku anak itu!

Jadi, ketika seorang acong saat ini memiliki catatan kejahatan atau Criminal Record, keluarganya sudah menjadi prototipe keluarga dengan pola asuh kacau balau! Tingkah laku agresif pada usia dini memang merupakan penanda paling nyata, bagi kenakalan pada usia anak - anak dan remaja! Kenakalan yang kronis dalam bentuk acong mencuri berulang kali, pada gilirannya juga menjadi prediktor bagi perilaku kejahatan di masa dewasa! Kendati demikian, dalam kasus acong tidak dapat langsung dimaknakan begitu! Kita perlu mendalami psikologis dan kehidupan sosial acong, agar dapat memahami serta memperlakukannya secara lebih tepat!

Permasalahannya, langkah eksplorasi psikologis itulah yang kita khawatirkan tidak dilakukan oleh aparat hukum yang mengadili acong! Andaikan sekali lagi, acong harus dikenakan diagnosis dengan parameter ilmiah sekalipun, penetapan status psikologis ini pun bukan perkara sederhana! Misalkan;
  1. Dalam banyak studi diketahui bahwa anak - anak melakukan pencurian ketika mereka merasa tidak diperlakukan oleh orang tua secara setara dengan saudara - saudaranya!
  2. Ada pula pencuri cilik yang melancarkan aksinya sebatas untuk unjuk kebolehan kepada teman - temannya!
  3. Atau ternyata ada anak yang mencuri justru karena ditengah kondisi serba tidak mampu, si anak masih punya keinginan memberikan sesuatu yang berharga bagi orang tua yang di cintainya!
Jika 3 (tiga) ragam pencurian itu yang melatar belakangi perilaku acong, kita bisa bilang apa?
TEPAT..!!! Ternyata mencuri lebih sebagai ekspresi anak untuk mendapatkan perhatian! atau bahkan memberikan perhatian!
Luhur sekali bukan..?? Jadi ayo! berikan apa yang memang sesungguhnya dirindukan & diharapkan oleh anak - anak seperti acong!

18 Januari 2009

AIR & KEPEMIMPINAN

Berawal dari hujan besar yg mengguyur kota Jakarta dan sekitarnya akhir2 ini, hati saya terketuk utk kembali menulis.. pada hari itu tepatnya senin tgl 12 januari 2009 di wilayah Jl. Sudirman Jakarta Selatan, saya terpaksa harus meneduh dalam kurun waktu yang cukup lama..karena hujan turun begitu lebatnya dan tak henti2nya. Sepertinya, baru kali ini saya mengalami hujan seperti ini seumur hidup. Yang ada di fikiran saya pada waktu itu adalah "jangan2 banjir besar lagi nih..!" begituuuu terus sepanjang hari. Namun alhamdulillahnya hal itu tidak terjadi / tidak sampai banjir besar. Selama hujan berlangsung, pelan2 saya mengamati tetesan2 air yang turun dari langit sampai akhirnya mengalir membasahi permukaan bumi! Melalui fenomena itu, hikmah pun muncul..!

Saya jadi ingat ada ayat yg bunyinya seperti ini "dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka mengapa mereka tidak juga beriman (QS 21:30). Maha suci dan Maha Besar الله yang telah menciptakan air di muka bumi ini. Dan Ia juga yang telah menciptakan manusia dari setetes air (QS 25:54).

Sadarkah kita bahwa 70 % tubuh kita terdiri dari air? sebagian besar planet bumi juga tertutupi laut dari samudera, yang menguasai 75 persen permukaannya. Sedang di daratan, sungai dan danau terbentang dalam jumlah yang tak terhitung. Salju dan gunung es di kutub adalah air dalam bentuk beku. Demikian pula awan yang mengandung jutaan ton air dalam bentuk uap. Bahkan udara yang kita hirup saat ini mengandung uap air.

Perhatikanlah ketika الله menurunkan air hujan ke bumi. Lalu air itu ada yang turun di permukaan laut dan ada yang meresap ke permukaan bumi. Di bagian lain, air turun dari lembah dan gunung, melewati sungai menuju laut lepas. Mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang lebih rendah. Dalam keadaan normal, air yang mengalir tak pernah memaksa batu, pohon atau penghalang lainnya untuk menyingkir, ia mengalir penuh kelenturan.

Gerakan dan sifat - sifat air ini, selayaknya bisa jadi cermin bagi pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya, apalagi di tengah krisis kepercayaan pada mereka saat ini. Air selalu mencari dan menuju tempat yang lebih rendah. Membasahi tak hanya puncak - puncak gunung dan lembah. Namun juga tanah gersang di tengah padang pasir sekalipun.

Demikian pula seorang pemimpin. Ia seharusnya tahu kondisi rakyat yang dipimpinnya. Baik yang berada di pusat - pusat kekuasaan maupun di ujung perbatasan. Inilah yang melahirkan sifat sense of crisis terhadap rakyat - rakyatnya. Bagaikan air yang menumbuhkan kuncup tanaman dan membuatnya merekah karena alirannya.

"Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya dan rakyatnya pun mencintainya" begitu pesan Rasulullah (رسول الله). Ingatlah bahwa salah satu kunci keberhasilan kepemimpinan Umar bin Khatab ra karena ia sering turun ke bawah. Almarhum Muhammad Natsir, pemimpin yang dikenal memahami kondisi riil yang di hadapi rakyat pernah mengatakan, "Pemimpin itu dilahirkan, bukan di ciptakan."

Dalam menciptakan aliran kesejahteraan, air dalam kondisi normal tak pernah memaksa batu, pohon atau penghalang lainnya untuk menyingkir. Sifat lentur ini tidak membuat air kalah. Paling tidak, air sudah berhasil melewati semua penghalangnya. Kelenturannya ini justru menjadi sumber kekuatan luar biasa. Mirip dengan ilmu beladiri, pada tingkat yang tinggi, keperkasaan seseorang dalam melawan musuh tidak ditentukan kekuatan atau otot yang tegang. Melainkan oleh kelenturan semua unsur tubuh. Begitulah sejatinya seorang pemimpin, ia tidak boleh memaksakan kehendak atau otoriter dalam memimpin. Hendaklah ia mempunyai konsep seperti air, tidak membuat kalah, namun tidak mengalah dan tetap sampai tujuan.

Air dalam kondisi tenang dan jernih dapat berfungsi seperti cermin yang nyaris sempurna. Ini memberi inspirasi bahwa tugas seorang pemimpin adalah mirroring (menjadi cermin bagi orang lain). Ia harus bisa jadi contoh atau teladan kebaikan dalam setiap ucapan, tindakan dan perbuatannya. "Seorang muslim cermin bagi muslim lainnya." (Hadits shahih).

Alangkah indahnya jika para pemimpin di negeri ini mau belajar memimpin seperti air. Memimpin untuk melayani, bukan untuk dilayani. Bukan dengan memaksakan kehendak, tapi justru menjadi contoh teladan kebaikan. Ingatlah, tanpa air.. tiada lagi kehidupan di muka bumi ini!

25 Desember 2008

MUTIARA KEHIDUPAN

Assalammuallaikum wr.wb
Ada sebuah nasehat lama yang saya ingat sampai sekarang yang arti dalam bahasa arabnya adalah demikian:
"sahabatmu yang sejati adalah sahabat yang menemani engkau ketika engkau menangis dan berduka. Bukan teman yang hanya berada di dekat engkau ketika engkau tertawa."

Jadi kalau kita gembira itu memang mudah untuk mendapatkan kawan, akan tetapi waktu kita sakit, kita sedih, disitulah akan teruji siapa kawan kita! Tentu yang paling dekat dengan kita adalah orang tua, terutama sosok ibu. Seorang ibu itu ketika melihat anaknya sakit, beliau lebih sakit dari anaknya. Dan ketika anaknya bahagia, orang tua tidak minta bagiannya. Sungguh ikhlas! ini merupakan suatu contoh cinta yang tulus dari seorang ibu kepada anaknya.

Nha… sekarang bagaimana hubungan horizontal untuk menjalin keakraban persahabatan seperti itu?
Ini adalah sebuah ujian, Seorang yang tulus dalam bersahabat akan di uji ketika kita sedang berada dalam kesulitan. Dengan ikatan iman, ikatan kemanusiaan dan karena kita juga sama - sama warga negara Indonesia, semestinya kita dapat melahirkan persahabatan sesama warga bangsa, persahabatan sesama manusia dan persahabatan sesama orang beriman. Ini mestinya harus kita tonjolkan dan kita perkuat, sehingga berbagai fiksi, fraksi, dan konflik yang kadang akhir2 ini muncul itu bisa diperkecil.

Kalau toh kita telah berbuat baik tapi teman kita menanggapinya kurang baik, anggaplah itu sebagai peluang. Berarti anda didorong untuk menggali simpanan kasih sayang dan maaf pada teman kita itu! Dengan demikian, orang yang memang loyal pada persahabatan, justru ketika dalam kesulitan itulah akan terlihat apakah kita itu punya sahabat sejati atau tidak.
Terima Kasih

04 Desember 2008

Belajar Dari Gempa Bumi

Kejadian trauma seperti itu melahirkan sebuah ketakutan yang tertanam di alam bawah sadar manusia dan akan mempengaruhi kestabilan emosi seseorang. Terpengaruhnya stabilitas emosi tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi motivasi seseorang dalam segala aspek kehidupan. JANGAN BIARKAN ITU TERJADI...!!!!!

Kita memerlukan situasi yang sangat sulit untuk menjadikan kita tangguh! analoginya: "untuk menghasilkan emas dari tambang, kita memerlukan suhu yang sangat tinggi untuk mendidihkannya!. Yang pertama adalah KESADARAN DIRI, kita harus sadar bahwa semua peristiwa itu memang benar - benar terjadi dan kita tidak dapat menolaknya. Yang kedua adalah REFLEKSI, kita harus bisa melakukan refleksi dari semua ini. Tanpa refleksi, apa yang akan kita lakukan setelah bencana tidak berbeda dengan apa yang telah kita lakukan sebelum bencana.

Dengan menata kembali program pikiran, marilah berefleksi tentang potensi kita, tentang diri kita, tujuan hidup kita, dan untuk apa kita hidup! Kehidupan ini terus berlangsung dan terus berjalan sebagaimana ia ingin berjalan. Tak ada satupun yang bisa menghentikannya. Ia berputar seperti RODA dan berhembus seperti ANGIN yang dibawa serta oleh kehidupan adalah PERKAKAS. Dualitasnya, ada siang ada malam, ada panas ada dingin, ada tinggi ada rendah, ada hidup ada mati, ada benar ada salah, ada berhasil ada gagal. Roda kehidupan itu akan menyapa siapa saja tanpa pandang bulu. Kita semua bisa bangkit! Saya yakin kita bisa bangkit! Kita akan bangkit melalui diri kita sendiri.

Mulailah dari memahami proses pikiran, memperbaiki misi, visi, menajamkan kreativitas, menjadi mandiri, dan yang terakhir adalah mendapatkan kekuatan kita sendiri! Lalu setelah itu cobalah untuk selalu mengidamkan KESEDERHANAAN. Karena, kesederhanaan adalah kunci awal dari langkah menuju KEBERHASILAN. Kesederhanaan adalah JUJUR kepada diri sendiri. Kesederhanaan adalah KEMENANGAN dari nafsu ingin menguasai. Kesederhanaan adalah CINTA!

Apapun yang singgah di hadapan kita yang dibawa serta oleh kehidupan itu, menjadi pupuk bagi kita. Menjadi sebuah mesin pendorong untuk kemajuan diri kita. Kita sudah setuju bahwa hidup ini adalah proses panjang perjalanan hidup itu sendiri. Sekarang ini kita sedang meniti proses dan menaiki tangga EKSPLORASI DIRI. Mudah2an yang saya sampaikan ini bisa membantu kita menjadi lebih cepat dalam menemukan SANG MOTIVATOR yang ada di dalam diri kita. Ayolah kawan... "GET YOUR POWER!"


semoga bermanfaat!

20 Oktober 2008

LAKI - LAKI SEJATI

  1. Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran....
  2. Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati di tempat bekerja, tetapi bagaimana dia menghormati orang-orang yang dia sayangi dan di sekitarnya...
  3. Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan....
  4. Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu....
  5. Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari banyaknya perempuan yang memuja, tetapi komitmennya terhadap perempuan yang dicintainya....
  6. Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan....
  7. Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca kitab suci, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca....
  8. Laki-laki sejati juga bukan dilihat dari materi, pekerjaan, karir dan jabatannya tetapi dari ketulusan hati....
  9. Laki-laki sejati bukan dilihat dari kuatnya kedua kaki dan tangannya ketika menopang beban yg lebih berat dari tubuhnya, tp dari kemampuannya untuk bangkit setelah ia 'terjatuh', meski ia terjatuh direlung yg terdalam dihidupnya....
  10. Laki-laki sejati bukan hanya dilihat dari kemampuannya mengucapkan kata-kata indah yg menggetarkan hati, bukan pula dari kemampuannya melantunkan syair-syair pelipur lara.
  11. Laki-laki sejati adalah ketika ia diam, ia berpikir. ketika ia memandang ia mengambil pelajaran. dan ketika dia bersikap, tingkah laku dan ucapannya menentramkan jiwa, mengajarkan kepada orang yang dia sayangi dan orang-orang disekitarnya akan indahnya hidup berdampingan, dengan penuh kasih sayang....
Kiriman dari seorang teman yang bernama "Lisa Zahra"

23 September 2008

MEDITASI SUFI

Assalamu alaikum (السلام عليكم as-salāmu `alaykum)
Meditasi sufi ini adalah dalam rangka menjaga kelima indera pada manusia!
  1. Telinga, sebetulnya telinga anda adalah pintu kepada hati. Itu berarti kita harus mendengar hanya untuk الله. Spt apa isi Al Qur'an, mendengar yang baik2, dan sejenisnya.
  2. Mata, sebetulnya mata adalah jendela kepada jiwa. Jadi bagaimana ketika kita melihat sesuatu yang buruk itu sama saja dengan mendownload virus kedalam hati kita. Maka ketika kita sholat tidak bisa khusyuk. Padahal Rasulullah (رسول الله) ketika berjalan itu selalu saja melihat kakinya. karena untuk menghindari melihat hal2 yang buruk itu tadi! Jadi bisa dikatakan mata itu adalah hizab terbesar. Karena bisa menyebabkan rusaknya hati karena pandangan.
  3. Perasa, contoh: dia merasakan sesuatu yang sensual atau apapun yang dampaknya ketika merasakan hal itu maka nafsunya naik.
  4. Penciuman, contoh: ketika dzikir kita kadang bau wangi2an, itu adalah bau wangi2an surgawi. Malaikat itu senang dengan wangi2an. Kalau bisa menarik nafas itu dgn menyebut kata الله...الله.. tapi sekarang ini kita menarik nafas dgn asap rokok!:( hal ini termasuk kelalaian juga di dalam jalan2 meditasi sufi dalam jalan tasawuf. Meditasi sufi ini sebetulnya dalam bahasa arabnya adalah "murakaba atau tafakur"
  5. Mulut, maka kenapa kita puasa? karena mulut ini bisa dikatakan menjadi suatu energi. Jadi ketika kita makan yang halal, berbicara yang halal, maka ini menjadi kekuatan. Maka mulutpun juga bisa menjadi hizab.
Meditasi sufi atau tafakur ini adalah jalan yang paling cepat. Di dalam hadis pun tertulis bahwa tafakur sejenak seperti 70 tahun ibadah. Meditasi sufi ini berlainan dengan meditasi yoga atau meditasi yang lainnya. Dalam meditasi sufi ini, langkah yang kita lakukan adalah:
  1. Menghadirkan "mahabah atau cinta". Cinta kepada الله Cinta kepada Rasulullah (رسول الله), Cinta kepada guru - guru. Lalu dari mahabah akan menjadi...
  2. "Hudur atau kehadiran". Kita merasakan kehadiran guru - guru kita, kehadiran Rasulullah (رسول الله) dan kehadiran الله. Kemudian dari hudur menjadi...
  3. "Fana". Nha ini lah langkah2 diawal2 yang kemudian kita menjadi baik karena guru kita senantiasa hadir ketika kita ingin berbuat buruk.
Nha ini kemudian kita bisa menjaga segala tindakan, menjaga mata, dan menjaga seluruh panca indera kita. Maka ketika kita dzikir, itu ada satu dzikir yang caranya adalah dengan membaca 7 kali Al faatihah, 7 kali Allam nasro gunanya adalah untuk membuka hizab dari kedua mata, kedua telinga. kedua lubang hidung dan satu mulut. Itu juga bisa berfungsi sebagai obat!

بسم الله الر حمن الر حيم

19 September 2008

Kok Bisa Salah Tangkap??

Polri bertindak cukup cepat dalam menyikapi kasus salah tangkap!
Setelah terungkapnya identitas mayat dikebun tebu, di Jombang Jawa Timur.
Kasus2 salah tangkap oleh personil polri yang terungkap belakangan ini, mengingatkan kita kembali pada peristiwa sejenis yang terjadi pada Tahun 70an, yaitu "sengkon dan karta".
Kita coba memahami, titik awal kegemparan ini berada dibenak para polisi, yaitu ketika mereka melakukan interogasi dengan maksud mengumpulkan informasi dalam waktu secepat - cepatnya.
Kerangka berfikir seperti itu, adalah menyimpang!
Bahkan, demi mengejar target menuntaskan kasus, polisi dapat terpancing untuk menggunakan pendekatan apapun yang cenderung manipulatif bahkan abusive atau kejam!
Jika ini yang berlangsung, polisi justru beralih paras menjadi pelaku kejahatan.
Inilah Vigilantisme! gambaran tragis ketika penegak hukum justru melakukan perbuatan melanggar hukum!

Coba kita simak temuan sejumlah peneliti!
Dibandingkan dengan unit - unit kepolisian lainnya, desakan utk menggali informasi sebanyak mungkin dialami lebih hebat oleh polisi yg menangani kasus pembunuhan!
Jadi dapat di nalar, desakan untuk sesegera mungkin memecahkan kasus, dapat memprovokasi polisi untuk melakukan segala hal selama proses investigasi, termasuk interogasi!
Dan dari seluruh kasus salah tangkap, 50% diantaranya justru merupakan buah dari kelalaian tigkah laku yang dilakukan oleh polisi, selama proses introgasi.
Padahal tanpa disertai kekerasan sekalipun, proses introgasi sendiri ternyata sudah cukup kuat menekan individu untuk mengakui kejahatan yang sebenarnya tidak dilakukannya.

Kenapa polisi sampai hati memaksa orang tak bersalah untuk mengakui suatu perbuatan yang tidak dilakukannya...?

Kenapa dalam mengungkap kasus kejahatan, polisi seperti didesak untuk kejar tayang...?

Tidak adakah pendekatan yang lebih humanis, ilmiah, ataupun scientific untuk mengorek informasi dengan selengkap dan seakurat mungkin...?

Penyebab mendasar dibalik kasus salah tangkap, bisa jadi ada pada unsur akuntabilitas!
Itu bisa jadi! karena walau telah mencanangkan reformasi atas dirinya sejak beberapa tahun silam, namun publik menilai polri Masih lebih perduli akan pertanggung jawaban kepada atasan ketimbang kepada masyarakat!
Indikator keberhasilan pun terletak pada seberapa jauh atasan mereka terpuaskan!
Mentalitas macam itu melestarikan watak komando yang terjawantah kedalam tindak tanduk berbau militeristik!
Konkritnya, kekerasan sangat mungkin menjadi teknik yang umum diterapkan dalam ruang2 introgasi!
Nha..bagaimana hasil kerja bidang profesi dan pengamanan atas para personil polri, yang tersangkut kasus salah tangkap?
Kita blm tau persisnya!
Tetapi harapan kita, mudah2an polisi tidak lupa satu ungkapan salah seorang kholifah sepeninggal Rasulullah..
Beliau mengatakan:
"lebih baik membebaskan 100 penjahat dari pada memenjarakan satu orang yang tak bersalah!"

08 September 2008

Jangan Salahkan Orang Miskin..!!!

Assalammualaikum wr.wb
Di bulan puasa yang penuh rahmat, hidayah dan ampunan ini..akhirnya saya bisa dapat kembali menulis. Melalui apa yang saya lihat akhir2 ini di sekitar saya, hati saya sungguh terpanggil dan membuat saya menjadi tidak bisa diam begitu saja.
Ketidak adilan sungguh sudah sangat meraja lela dinegara kita...
Seolah2 rasa ketidak puasan itu tak pernah ada habisnya..
Yang kaya semakin kaya...dan yang tertindas semakin tertindas..
Sungguh sebuah fenomena yang sangat memprihatinkan sekali..

Tempo hari, saya melihat seorang anak yang dengan se enaknya makan dan minum di depan umum...
Pemandangan tersebut sungguh sangat menggoda orang2 yang melihatnya...
Karena, pemandangan yang tak enak ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa!
Bulan ketika banyak orang yang sedang menahan lapar dan haus...
Namun sepertinya hal tersebut dilakukannya dengan sengaja oleh si anak...
Sampai2 anak itu menjadi bahan pembicaraan di daerah itu...
Hal ini bagi orang2 sekitar sungguh menyebalkan...
Karena, disamping ia makan dan minum seenaknya didepan umum, ia juga menggoda dengan cara berjalan kesana kemari sambil mendekati orang2 yang sedang berpuasa...

Singkat kata dengan mengucap "Bismillah", saya pun mulai mencengkeram tangan si anak, lalu saya berbicara:
"apa maksud dari semua ini?"
"Siapa dan dari mana asal mu?"
Mendengar ucapan "Bismillah" itu, si anak mendadak menuruti tarikan tangan saya...
Saya pun kemudian berkenalan dengannya...
Dan si anakpun bertanya:
"Ada apa mas melarang saya meminum es dan menyantap roti ini?"
"Bukannya ini adalah kepunyaan saya?"
Lalu saya jawab:
"Maaf ya...itu karena kamu melakukannya dibulan puasa,"
"Bukannya kamu tahu, kalo kamu seharusnya ikut puasa?"
"lalu bukannya kamu ikut menahan lapar dan haus, tapi kamu malah menggoda orang2 dengan tingkahmu itu.." (jawab saya dengan nada halus)

Tapi mendadak si anak berdiri sambil menatap mata saya lebih tajam lagi.
"Itukan yang kalian lakukan kepada kami semua!
Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal itu ketimbang saya?

Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa!
Bukankah kalian lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak - banyaknya dan melupakan kami?

Bukankah kalian juga selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis?
Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal?
Bukankah dibulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja kalian menahan rasa lapar dan haus?
Ketika bedug maghrib berlalu, ketika adzan maghrib terdengar, kalian kembali kepada kerakusan kalian?
Ketahuilah mas, kami berpuasa tanpa ujung...
Kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa lantaran memang tidak ada makanan yang bisa kami makan...
Sementara mas puasa siang saja...
Dan ketahuialh mas, justru mas dan orang2 yang ada disekeliling mas lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu sebagai menyambut Ramadhan dan Idul Fitri!
Mas, sebelas bulan kalian tertawa disaat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian seadanya...
Mas, kalianlah yang melupakan kami...
Kalianlah yang menggoda kami...
Dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan Ramadhan ini...
Apa yang saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang - orang kecil seperti kami...
Mas..sadarlah mas akan ketidak abadian harta?
Lalu mengapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih?
Mas..sadarkah apa yang terjadi bila mas dan orang2 sekeliling mas tertawa sepanjang masa dengan bergelimangan harta dan melupakan kami yang semestinya diingat?
Bahkan berlebihannya mas dan orang2 di sekeliling mas bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat!
Tahukah mas akan adanya azab Tuhan yang menimpa?
Mas jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi..!
Mas jangan merasa perut kan kenyang esok lantaran tersimpan pangan tuk setahun..!
Mas jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi, kelak! "

Wuahhhhh.... entahlah apa yang ada dikepala dan hati saya...
Perkataan demi perkataan meluncur deras dari mulut anak itu tanpa bisa dihentikan...
Dan hebatnya, semua yang disampaikan anak itu adalah benar adanya!
Jujur...saya yakin bahwa anak ini bukan anak sembarangan!
Habis berkata panjang lebar terhadap saya, anak itu pergi meninggalkan saya yang sedang terbengong - bengong begitu saja bak ditelan bumi.
Begitu sadar, saya langsung mencoba mengejar...mencari lagi anak itu sampai ketepian jalan raya...saya pun mengedarkan pandangan saya sampai keseluruh sudut yang bisa saya lihat, tapi saya tidak menemukan anak itu kembali...
Saya tidak ingin main2...
Saya segera putar langkah, kembali ke rumah dan langsung mengambil sajadah, sujud dan bersyukur...
Meski peristiwa ini irasional dan tidak masuk akal, saya mau meyakini yang masuk akal saja..
Bahwa begitulah adanya apa yang dikatakan anak misterius tadi...
Anak tadi memberikan pelajaran berharga...
Betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat...
Yaitu mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak....

Anak tadi juga memberikan saya banyak pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapat karunia Allah, jangan sekali - kali menggoda orang kecil, orang bawah, orang miskin dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan...
Marilah kita berfikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.

Duh gusti..siapakah anak itu???? :(

05 Juli 2008

TEROR... SIAPA GERANGAN?

Detasemen khusus 88 Antiteror Mabes POLRI menahan beberapa orang yang diduga sebagai anggota jaringan teror dari sejumlah tempat berbeda..Bahan peledak dan senjata api juga disita dari lokasi penangkapan.
KITA ACUNGKAN JEMPOL!
Karena POLRI ternyata tidak terlena oleh banyaknya ancaman maupun aksi teror semenjak tahun 2007 lalu..Kesigapan macam inilah yang kita harapkan.
Jadi tidak hanya prestasi karena POLRI berhasil menangkap para pelaku aksi teror, POLRI juga menunjukkan kemampuannya dalam mengendus potensi teror sejak dini.

Tetapi POLRI juga perlu tau bahwa penilaian masyarakat terhadap POLRI tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan POLRI dalam menangani kasus kejahatan saja! apakah POLRI bisa merebut hati masyarakat? Tanpa simpati publik, sebesar apapun prestasi POLRI niscaya tidak akan membawa manfaat bagi citra KORPS TRIPARTA. Itu yang bisa kita lihat selama ini!!
Terbukti...keberhasilan membongkar komplotan narkoba, menangkap pelaku ilegal logging, dan memburu aktor jaringan perdagangan manusia, sepertinya masih belum cukup untuk mengangkat reputasi POLRI dimata stakeholdersnya.

Dari kenyataan itulah kita menjadi ingin berpesan kepada POLRI..
Berkenaan dengan operasi Densus 88, POLRI perlu secepat dan segamblang mungkin mengemukakan ke khalayak luas siapakah gerangan?
Teror adalah isu sensitif, banyak sisi kemasyarakatan yang bisa bergesekan dengannya..apalagi selama ini, setiap kali mendengar kata teror, asosiasi kita sudah terlanjur spontan tertuju pada orang2 yang mengumandangkan ideologi tertentu..
Pengidentikan kata teror dengan agama seolah2 sudah menjadi hal yang lumrah..
Kelompok agama juga identik dengan gerombolan maupun organisasi lain yang juga melakukan tindak pidana bahkan kejahatan yang luar biasa..

Masalah ini semakin signifikan untuk kita cermati...
Karena kegemparan menyusul insiden monas awal juni lalu, juga bersinggungan dengan kelompok agama tertentu..Itu sebabnya, harapan kita, operasi densus 88 yang bernilai positif itu jangan sampai nantinya malah tercemar akibat ketidak becusan POLRI dalam mengkomunikasikannya dengan masyarakat..karena jika tidak, akan sangat mudah bagi siapapun untuk tergelincir kekesimpulan bahwa seolah - olah agama tertentu memang identik dengan disharmoni sosial.
Tidak hanya ditingkat lokal, tetapi juga tingkat nasional, bahkan global!